SEJARAH DESA KADIPIRO

Cerita Lisan di Kadipiro, Sambirejo Sragen
Wiro Wiyono, kelahiran 1969.
Cambah Mote itu merupakan punden yang terdampak empat jenis pakaian, yakni 
1.    Cambah Mote
2.    Sabuk Lesung
3.    Sabuk Sinerung
4.    Sabuk Kawak.
Ada pula pohon-pohon besar, yaitu Pohon Grasak (Mbah Kali), Pohon Beringin, dan Pohon Trembesi. Saat pohon beringin ambruk keluar keris Naga Sasra (keris kuningan, zaman buda). Apa itu keris di era Empu Sedayu (Empu Supo)
Seorang juru kunci Situs Cambah Mote Kadipiro, Wiro Wiyono, menerangkan situs tersebut merupakan tempat untuk mencari wahyu derajat dan pangkat. Dia menrangkan banyak orang yang ingin menjadi kepala desa (kades) atau jabatan lainnya datang ke situs itu untuk sesirih atau laku prihatin menepis hawa nafsu dan bermunajat kepada Tuhan. “Ada empat gundukan di tempat itu, di antaranya bernama Cambah Mote, Sabuk Lesung, Sabuk Sinerung, dan Sabuk kawak. Dulu di tempat itu juga ditemukan keris dengan dapur naga sasra,” ujarnya.
Sesepuh Desa Kadipiro, Sambirejo, Sragen, Sungkono, menjelaskan situs Cambah Mote itu ada kaitannya dengan situs Sentana Duwur yang ada di wilayah Desa Musuk, Sambirejo, yakni tempat persinggahan Sunan Geseng. “Dulu masih ada buku catatannya tetapi sudah hilang. Dulu simbah saya itu pernah bertapa di sana ingin menjadi dukun bayu. Tapa ngluweng itu dilakukan selama 40 hari dan saat bertapa itulah, simbah cerita bila bertemu dengan seorang sunan dan diberi wejangan. Dulu orang dari Jogja juga pernah bertapa di Situs Cambah Mote itu,” jelasnya.


Nguling
Nama Nguling berasal dari nama uling sawah, atau oling, seperti biawak atau kadal gede. Zaman londo ada anak yang tahu kadal gede memberitahu ibunya,

Kabupaten Sragen
Menempati rumah Mbah Adi Pamento zaman Bupati Mangunengara. Tempat itu dulunya ditempati Bupati Sragen saat diserang Belanda.