Sejarah Desa Bedoro Sambungmacan

8 Petilasan dan Sendang di Desa Bedoro
Desa Bedoro merupakan salah satu dari sembilan desa yang ada di Kecamatan Sambungmacan, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah. Wilayah Desa Bedoro terletak di perlintasan jalan nasional, Jalan Sragen-Ngawi. Desa tersebut terbagi atas 12 dukuh yang masing-masing memiliki kearifan lokal tersendiri. Belasan dukuh itu terdiri atas Dukuh Dukuh Bedegan, Bedoro, Bero, Dimoro, Jungke, Kedungkayen, Plumbon, Pucang, Sonorejo, Tegalrejo, Tunjungan, dan Tunjungsemi.
Desa ini kaya dengan jejak-jejak peradaban tua yang sampai sekarang masih dijaga warga. Setidaknya ada delapan punden dan sendang yang terdapat di Desa Bedoro, yang meliputi lima sendang terdiri atas Sendang Pandawa (Jumat Legi) di Dukuh Tunjungan, Sendang Sukowati (Jumat Pon) di Dukuh Dimoro, Sendang Serut (Jumat Pon) di Dukuh Pucang, Sendang Putri dan Sendang Kakung (Jumat Kliwon) di Dukuh Sonorejo, dan Sendang Kadungkayen (Jumat Pon) di Dukuh Kedungkayen, serta tiga punden atau petilasan, yakni Petilasan Tunjungsemi (Mbah Pinto) weton Jumat Pon, Petilasan Tunggul Wulung di Dukuh Bero, dan Punden Krapyak (Jumat Pon) atau Petilayan Mbah Wiratmaja yang juga diyakini sebagai cikal bakal Dukuh Bedoro.
Hampir sejumlah petilasan dan sendang itu ditemukan pohon serut, trenggulun, preh, beringin, klampok, aren, dan pohon trembesi raksasa dengan diameter sampai 2,5 meter. Pohon-pohon tersebut merupakan pertanda zaman. Pohon serut dengan nama latin streblus asper sering diburu untuk tanaman bonsai atau tanaman hias. Serut ternyata kaya khasiat dan penting bagi penelitian obat herbal dan kesehatan. Tumbuhan ini habitatnya ada di daerah tropis. Pohon ini memiliki tinggi antara 4-10 meter. Kayu pohon ini memiliki banyak manfaat, di antaranya bahan baku pembuatan kertas. Di Thailand, kayu serut digunakan sebagai bahan baku kertas sejak 700 tahun yang silam. Sejumlah dokumen kuno di Thailand berbahan baku kayu serut.
Pohon trenggulun (protium javanicum burm) memiliki ketinggian 15-25 meter hampir punah di Indonesia. Berdasatkan penelitian, kayu trenggulun ini baik untuk mengendalikan rayap, serangga, dan haman tanaman karena memiliki zat aktif termitisida dan antifeedant.
Pohon aren berasal dari daerah tropis dengan sebaran di wilayah Taiwan, Laos, Vietnam, dan Indonesia . Pohon termasuk pohon yang dilindungi dengan ketinggian sampai 25 meter. Pohon ini banyak manfaatnya untuk manusia, seperti niranya untuk bahan baku gula, kolang-kaling, bahan bangunan, dan energi ramah lingkungan atau bioetanol, dan seterusnya.
Masing-masing sendang dan petilasan itu memiliki kisah sejarah yang berbeda tetapi saling berkaitan. Dari versi para pegiat sejarah Palapa Mendira Harja Sragen, sosok Wiratmaja di petilasan Punden Krapyak itu diduga Joyodigdo yang makamnya ada di Blitar. Wiratmaja ini merupakan saudara dari Sumanegara (Mbah Sumo di Klebet) yang ada di Wengker yang kini menjadi Ponorogo. Ada kesamaan nama daerah di Wengker dan Sukowati, yakni nama Sabungmacan di Wengker dan Sambungmacan di Sukowati. Sabungmacan atau Sambungmacan itu kalau di Blitar sebutannya bedakan macan, yakni pertarungan macan dan manusia. Lokasi tersebut menempati lemah botak atau lahan yang tidak bisa ditanami. Lemah botak juga ditemukan di wilayah Bedoro, tepatnya dekat sendang putri Dukuh Sonorejo. Bedakan macan itu bergeser ke Blitar sejak tahun 1980-an.
Sementara cerita lisan di Bedoro menyebut Tunggul Wulung yang ada di Bero (pohon jambe di oro-oro) merupakan teman dari Pinto yang ada di Tunjungsemi. Mereka sama-sama berkelana dan menetap di wilayah Bedoro. Ki Tunggul Wulung yang menyabda setelah melihat ada pohon jambe di tengah oro-oro menjadi Dukuh Bero.
Dari cerita sesepuh di Bero, Ki Tunggul Wulung itu juga ada kaitannya dengan Sunan Lawu (Raden Gugur) yang juga salah satu putra Brawijaya V. Di tempuran Kedung Wajan pernah ditemukan Keris Sunan Lawu luk 13 yang meminta tumbal 21 nyawa.
Dari sekian petilasan dan sendang, ada Sendang Pandawa yang menarik. Di tempat itu ada lima sumber air di tepi Sungai Tunjung. Di tempat itu juga ada batu lintang dan adanya hewan mitologi kuda sembrani. Pola yang ada di Sendang Pandawa ini mirip dengan pola di kompleks Eyang Sampurno yang terletak di Butuh Desa Banaran, Sambungmacan. Sumber air itu dikeliling padas berbentuk bulat tak beraturan dan sekarang dibangun dengan dipasangi bis beton. Di salah satu sumber air itu ada yang gempal yang ceritakan menjadi tempat pijakan kaki Kuda Sembrani saat terbang.
Kono, kuda sembrani ini merupakan tunggangan Sultan Agung yang diambil dari Mekkah. Kuda sembran ini dipelihara seorang abdi dalem Sultan Agung yang bernama Joko Bodo. Gara-gara kuda sembarni ini lari akhirnya bisa ditemukan Dewi Permoni yang tidak lain Kanjeng Ratu Kidul. Dalam Babad Tanah Jawi, kuda sembrani merupakan tunggangan Dewa Wisnu. Nama Wisnu merupakan raja pertama di Tanah Jawa dengan kerajaannya bernama Waringin Pitu. Sosok Wisnu dalam konteks sejarah belum ditemukan. Sosok Sri Aji Jayabaya dalam Babad Tanah Jawi dan Serat Aji Pamasa disebut sebagai titisan Wisnu. Pada prasasti Pucangan berangka tahun 1041 menyebut Airlangga sebagai titisan Wisnu. Dalam prasasti Sirah Keting berangka tahun 1104 menyebut, Sri jayawarsa Digwijaya Sastraprabhu mengaku sebagai titisan Wisnu.
Penggunaan nama dewa oleh seorang raja di masa lalu itu dikenal dengan istila dewaraja. Konsep legitimasi kekuasan raja untuk melanggengkan kekuasaan. Konsep dewaraja ini digunakan pada kebudayaan kuno di Asia Tenggara.
PASTIKA