Menelisik Kisah-kisah Sejarah Desa Banaran

Banaran adalah desa di Kecamatan Sambungmacan, Sragen. Banaran yang terletak di perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur ini terdiri atas beberapa dusun. Banaran juga terkenal dengan rumah makan Jawa, yang terletak di pinggir Jalan Sragen-Ngawi. Dahulu terdapat beberapa Rumah Makan Jawa yang menyajikan masakan Jawa, seperti sate, tongseng, gulai, dan lainnya.
Luas wilayah Banaran 12 km² dengan jumlah penduduk 15.879 jiwa. Kepadatan penduduknya 1000/km² Desa Banaran terbagi menjadi 4 Kebayanan, Kebayanan Banaran sebagai sentral pemerintahan Desa Banaran yang terbagi atas enam dusun (Dusun Butuh, Butuh Wonorejo, mBarang, Banaran, Banaran Kampung baru, Banaran Bandosari), Kebayanan Kiping terdiri atas Dusun Krajan, Kedungbanteng Utara, Kedungbanteng Selatan, Kiping Timur, Kiping Barat, Kedungdiro, Satron, Korowelang; Kebayanan Dawe (Dawe, Sundo/Sundo Asri, dan Sumberagung), dan Kebayanan Bolo (Dusun Karangasem, Mbolo, Mbolorejo, Mbluwak, Mbulakrejo, dan Ndrojo/Ngadirojo).
Nama Banaran
Nama Banaran menurut cerita tutur yang berkembang di masyarakat, berasal dari kata dasar “Banar” atau “Benar.” Dalam bahasa Indonesia artinya tumbuh-tumbuhan yang rindang. Ada yang mengartikan “Banar” adalah baik, ramah, dan lembut. Menurut cerita tutur “Banar” berarti terang/cerah.secara langit/luas/lapang, padang.
Banaran sama dengan Kebenaran. Diperkirakan nama Banaran ada, ketika zaman Mas Karebet atau Joko Tingkir bertemu dengan Wali/Mbah Sunan Kalijaga di tepian Bengawan Solo. Pertemuan tersebut menjadi terang benderang menjadi banar, benar, beneran, setelah Mas Karebet menjadi murid Sunan Kalijaga dan Syech Siti Jenar, semua menjadi (padang) terang benderang. Apa yang akan dituju, dicari, Mas Karebet. Ketika itu Karebet belum mendapat julukan Jaka Tingkir. Dalam hal ini masih membutuhkan kajian penelitian mendalam.
Jauh sebelum muncul nama Banaran, banyak nama-nama perkampungan atau dusun yang lebih tua dari Banaran, seperti dusun pada Era Kerajaan Purwo, yakni Pertapan (guru resi/pandito, wahdat /Sampurno saat ini), Korowelang, Nggerombyang, Ngadiraja/Ndrojo, Kablengan, dll. Setelah memasuki Era Kerajaan Majapahit muncul nama dusun, seperti komplek persawahan Kepohan, Sigaran/Segaran, Kerajaan, Mbluwak, Barang, Dawe, dll. Kemudian masuk Era Kewaliyan Kerajaan Pengging-Demak, muncul dusun seperti Butuh, Padepokan Iman Sampurno, Mbluwak, petilasan Pancuran. Mbregedat, dll. Berlanjut ke Era Pajang-Mataram ada Dusun Kabanaran (Banaran), Sumberagung dengan belik Kopeknya, Sendang Nganten ( Penganten), Jamban Cikal, saat itu Mbah Sunan sudah sepuh. Lalu Era Kartasura-Surakarta, nama Kabanaran semakin tenar, Raden Mas Sudjono, Raden Mas Said di Mbregedat, Kedungdiro, Kiping, Kedungbanteng, Kedungbrangkal. Hingga era kemerdekaan muncul Dusun Sundo Asri, Bandosari (Banaran Kidul Pasar, Kampung Baru), dll.
Kabanaran Dalam Catatan Ayu Hanafiq (6 November 2017)
Gubernur Java Noordoostkust Nicholas Harting terkejut mendengar jawaban Sunan Kabanaran. Dia tidak mengira bila lawan berundingnya itu menolak mendirikan kraton di Japan dekat Surabaya. Penolakan yang sama artinya dengan Kabanaran ingin lepas dari pengawasan Kompeni.
Harting memang ditunjuk Direktur VOC di Batavia untuk menghadapi Sunan Kabanaran di atas meja perundingan. Harting berangkat dari kantornya di Semarang ke Giyanti pada 8 Februari 1755. Perundingan itu bertujuan untuk mengakhiri perang suksesi tahta Mataram antara Kabanaran atau Pangeran Mangkubumi dengan Sunan Pakubuwono III. Kabanaran menuntut separuh wilayah kerajaan diserahkan pada dirinya.
Karena kewalahan menghadapi perlawanan itu maka Paku Buwono III terpaksa minta bantuan VOC di Semarang. Setelah bertempur bersama, VOC melihat peluang untuk memecah Kerajaan Jawa maka dilakukanlah perundingan segitiga antara mereka. Namun, posisi Paku Buwono III yang diwakili Patih Pringgalaya pada posisi pasif. Sunan Surakarta itu harus menerima apa yang disepakati antara Harting dan Kabanaran.
Dalam rencananya, Harting akan membelah wilayah Mataram menjadi dua bagian. Batas wilayah itu mulai dari Madiun ke barat dan ke timur yang biasa disebut mancanegara wetan. Wilayah timur itu nantinya diberikan pada Sunan Kabanaran sebagai konsesi mengakhiri peperangan. Kraton baru itu nantinya harus dibangun jauh dari Keraton Surakarta tempat Sunan Paku Buwono III berada. Dengan begitu Kabanaran tidak lagi mengganggu kekuasaan Paku Buwono.
Penempatan Kabanaran di wilayah timur itu dibuat berdasar beberapa pertimbangan. Pertama, Kabanaran harus dipisahkan dari pendukungnya di Banyumas. Dengan begitu maka kekuatan militernya melemah. Selain itu Harting khawatir jika Kabanaran menguasai Banyumas, dia akan menjadikannya sebagai pangkalan untuk menyerang Batavia.
Kedua, wilayah timur dikenal sebagai wilayah miskin. Hal itu karena pembangunan dan pengembangan wilayah lebih terpusat pada wilayah Negaragung, daerah sekitar keraton. Harapannya, Kabanaran tidak memiliki cukup sumber daya ekonomi untuk membangun kekuatannya. Membangun ekonomi Brang Wetan butuh tenaga dan biaya besar.
Ketiga, dengan menempatkan keraton di dekat Surabaya tentu lebih mudah mengawasi. Wilayah dekat Surabaya yang masih dalam kekuasaan Mataram adalah Kadipaten Japan yang saat itu diperintah Tumenggung Tepasana. Belanda memiliki pangkalan militer atau benteng yang kuat di Kota Surabaya. Pangkalan yang dibangun kompeni saat mengalahkan Trunojoyo dan Surapati.
Keempat, secara politis para bupati wilayah timur bukan pendukung Sunan Kabanaran. Para bupati itu pernah melakukan perlawanan dalam pertempuran di Ponorogo. Harting sudah membuat syarat bahwa Kabanaran tidak boleh mengganti para bupati itu tanpa persetujuan Kompeni
Melihat syarat yang diberikan Harting, Kabanaran paham bahwa dirinya akan dilemahkan secara militer, politik, dan ekonomi. Dia tidak boleh menyerah begitu saja. Banyumas boleh lepas, tetapi tidak semua diberikan pada Paku Buwono. Lebih dari itu Kabanaran tidak ingin hidup dalam pengawasan Kompeni. Kerajaan baru yang dibangun harus tetap kuat dan bermartabat.
Sehari kemudian, Kabanaran memberikan jawaban atas tawaran Harting. Kabanaran memilih membangun keraton di bekas Ibukota Mataram dulu. Keraton itu diberi nama Yogyakarta Hadiningrat. Pilihan wilayah itu sebagai penegasan bahwa Kabanaran adalah penerus Panembahan Senopati pendiri Mataram. Gelar yang dipakai adalah Sultan, seperti gelar yang digunakan Hanyakrakusumo.
Jawaban itu membuat Harting harus berpikir ulang. Dia tidak mungkin lagi memaksa Kabaran agar menerima semua tawaran awalnya. Kompromi harus dicari agar api peperangan tidak berkobar lagi maka disepakati bahwa wilayah dikocok ulang. Karena Kabanaran meminta wilayah Kotagede maka sebagai gantinya wilayah Wirasaba menjadi milik Paku Buwono III. Sementara Japan tetap diberikan pada Kabanaran.
PASTIKA